03 December 2013

Lagi Pengen Curcol

Pecinta kopi, caffein, teh hangat mungkin itu suatu hal biasa bagi para penulis. Contohnya aku, bukan aku saja, banyak kuperhatikan penulis yang sudah tenarpun banyak yang mencintai kopi, iya mungkin karena aroma caffeinnya. Aromanya seperti awal mula bertemu dengan kekasih, apa? Kekasih? Siapa? Lupa? Kau ini sendiri bukan jomblo, aku enggan dibilang single , apa lagi jomblo. Sudah berbahasa indonesialah, aku memang sendiri. Hidup itu memang unik, entah mengapa Tuhan Maha Besar sekali Dia menciptakan kehidupan ini dengan beraneka ragam, tergantung manuasianya aja sih, bagaimana mereka mewarnai hidup mereka, apa mereka ingin mewarnainya dengan tinta hitam, atau dengan tinta yang berwarna. Hm, jika aku sih mungkin aku ingin mewarnainya dengan cat air yang berwarna. Cat air itu aku menggunakan semua orang disekelilingku yang bisa meng- up and down kan hidupku. Entah akhir-akhir ini aku suka kangen sama Ibu, aku terkenal cuek dikeluarga. Ya,, entahlah bukan hanya dikeluargaku saja, mungkin diantara temanku aku juga seperti itu. Pantas mereka banyak yang mengiraku, aku ini sombong, angkuh, pendiam, ga banyak berpikir, mungkin ada juga yang bilang aku alay, suka cari perhatian, atau apalah~
Aku dari dulu enggan mendengarkan celotehan mereka, celotehan dari gadis yang cantiknya hampir menyerupai cleoptrapun, aku enggan mendengarkannya. Apa untungnya buat aku? Toh aku anggap saja mereka sirik belaka. Tuhan itu baik sama aku, Tuhan selalu memposisikan aku diantara orang-orang yang baik, bukan orang-orang yang keji ataupun orang-orang yang bedebah dan terlaknat. Buktinya, aku sekarang sering bahagia diantara orang – orang yang memang benar – benar terpilih, keluarga, teman, mungkin sebentar lagi seorang lelaki akan menghampiriku. Aku baru sadar Novemberku mempengaruhi Desemberku, buktinya awal Desember aku sudah unmood begini. Mulai dari hal keluarga, sahabat, pribadi, sampai keseharianku. Oh Tuhan, aku yakin dengan “Allah tidak akan membebani makhlukNya diluar batas kemampuannya”Ya, maka dari itu mengapa aku masih kuat, Tuhan yang menguatkanku. Hm,, aku heran dengan orang –orang yang suka menyombongkan dengan yang mereka miliki. Terkadang aku terpengaruh, aku menjadi iri, nah dari itu sifat-sifat buruk muncul. Tapi, sejak aku mengenal dengan orang yang lebih dewasa dariku, yang usianya beda jauh denganku, aku bisa belajar, aku bisa paham dengan sifat-sifat itu. Tapi entah, sampai kapan perkenalanku berujung kehalalan, ahhahaha~
Bayangkan saja, aku mengenal seseorang yang belum tahu wujud dia seperti apa, alhasil dari perkenalan adek kelas. Herannya  dia bisa menjadikanku lebih dewasa, yah menurutku sih.
            Aku sering bertanya dalam diriku,
Kapan, aku bisa membuat lengkuk senyum dibibir orang tuaku?
Kapan, aku bisa menjadi wanita yang tak luput dari iri dan dengki?
Kapan, aku bisa membawa laki –laki yang pantas untuk kuperkenalkan pada mereka?
Ya, meskipun sering aku suka nyelekasi pasangan, seumur-umur aku belum pernah mengajak teman lelaki ke rumah, entah belum siap aja. Takut orang tua kecewa. Kalo dibilang envy sama orang-orang yang lagi pacaran, iya envy banget. Tapi ini ujian iman bagiku lho, mereka belum melalui, aku udah mendahului kan hebat namanya. Eh, betewe aku ini curhat apaan? Ga nyambung ya, ya udah sih gapapa~

0 comments:

Post a Comment