02 April 2014

Tuhan Tidak Tidur



“ Dari mana saja kau, jam segini baru pulang. Jangan mentang – mentang kamu ini anak laki – laki  di keluarga ini. Jadi seenaknya saja pulang malam” Setiap hari aku mengomel dan menghabiskan waktuku hanya untuk memarahi adikku yang kolot ini.Wajar aku mengeluarkan omelan karena aku kakaknya dan menasihatinya termasuk tanggung jawabku.
“ Memang kenapa jika aku pulang malam? Toh Ibu dan Bapak tidak mencariku” Raut wajahnya seakan membantah omonganku. Memang susah menasehati laki – laki sekeras dia yang tiap hari kerjanya hanya meminta uang untuk membeli minuman keras. Aku selalu bungkam pada Ibu dan Bapak atas kenakalan dia. Dia adik tertampan yang aku punya. Jelas dia paling tampan aku danIbuku sudah paling cantik kecuali si kunyit ini. Dia mengganti kaosnya yang berbau alcohol dengan kaos baru yang diambilnya dari lemari.Tubuhnya begitu kurus karena banyak memakai obat - obatan dan minuman keras. Rambutnya sudah sedikit gondrong, geleng – geleng kepalaku melihat sikapnya.Tatto di lengan tangan dan punggungnya masihada. Jika Ibu dan Bapak tahu ulah dia, entah apa cerita selanjutnya.

*****
Setahun setelah meninggalnya Ibu karena penyakit jantungnya yang sudah parah adikku sudah berhenti dari obat – obatan dan minuman keras yang sebagian dari kebiasaannya. Aku tak bisa melakukan apa – apa, yang kulakukan setiap hari hanya bisa memandang pigura foto Ibu sedang menggendongku ketika aku berusia 3 bulan. Lagi – lagi derai air mataku keluar, ingin menahannya tapi tidak bisa. Rasanya dadaku semakin sesak. Sesekali kugoyahkan kakiku yang lumpuh ini aku tetap lumpuh diatas kursi roda. Aku marah, geram dengan kelumpuhanku ini. Ibu meninggal dan kakiku lumpuh akibat kecelakaan korban tabrak lari. Orang bilang ” Tuhan tidak membebani makhluknya melebihi kadar kemampuannya”. Lantas, apa aku ini kuat?
“ Agrhhhhhh!!! Lumpuh kau!!! Sialannn!!! Bodoh!!! Aku ini wanita bodoh!!! Agrhhhhh!!!”Adikku keluar dari kamar dan menampar pipiku dengan keras.
“ Memang kau bodoh! Lantas kau mau apa!!” Kemarahannya memuncak setiap  kali aku mengamuk karena kakiku.
“ Iya, memang kakakmu lumpuh. Kau mau apa? Menertawakanku?“ Ujarku sambil mengusap air mata. Adikku masih geram dengan kemarahannya.Dia mengambil vas bunga seakan ingin memecahkannya diatas kepalaku, tiba – tiba dia membantingnya di lain tempat dan memelukku erat. Ini adikku, aku sudah kehilangan dekapannya beberapa bulan. Kupeluk dia erat, dia menenangkanku, didorong kursi rodaku ke kamar, menggendongku dari kursi roda ke tempat tidur, dan mengecup keningku. Yang kurindukan selama ini dari dia, dekapannya –
“ Aku pamit pergi dulu, mau cari kerja. Do’akan semoga diterima biar bapak ndak jual kangkung terus di pasar” Sambil membungkukkan tubuhnya dan mencium tanganku.
“ Iya, hati – hati, kakak do’akan semoga lancar” Ku elus punggungnya dia meninggalkanku dikamar. Kulihat tirai jendela kamarku, masih sama. Masih sama seperti dulu sebelum kepergian Ibu. Kelopak mataku sudah mulai menutup, tiba – tiba terbuka karena teriakan pemuda di luar sana.
“ Ajeng,, Pak Kamto, Jengg” Heran kutengok jendela kamar suara Rusydi membuatku penasaran.
“ Iya Rusy ada apa?” Sembari melihat Rusy tetanggaku ngos – ngosan.
“ Adik kau, adik kau Jeng” Masih ngos – ngosan berusaha mengeluarkan perkataan dari mulutnya.
“ Rusy, jawab kenapa adikku?” Aku semakin geram dengan kalimatnya yang berbelit – belit.
“ Adik kau menabrak dua anak kecil dan tewas, sekarang dia di bawa ke kantor polisi Jeng. Dia mendapat hukuman penjara, itusaja yang kudengar”
Perkataan Rusy seperti kereta api yang tiba – tiba menghantamku, otakku hancur, tulangku remuk dan tak berjasad.
                                                    *****
Bapak semakin sakit – sakitan sedangkan aku masih lumpuh diatas kursi rodaku ini.Lumpuh masih menggerogoti sisa usiaku.Tuhan, Tuhan, Engkau tidak tidur.Apa aku masih bisa bahagia setelah ini dan esok setelah melihat Bapakku sudah terbujur lemah di pangkuanku. Dahak batuknya yang terakhir ia keluarkan di baju usangku yang beberapa hari tak ada yang menggantikan bajuku.
Saat ini, esok, dan seterusnya hanya tiga batu nisan yang bisa kudekap dan kucium. Bukan wangi mukenah Ibu yang harum setelah sembahyang, bukan bau kepulan asap rokok Bapak yang kuhirup sebelum dia jual kangkung ke pasar, dan bukan bau mulut adik yang bau alcohol tapi, harum bunga di makam mereka yang kuhirup dan kutabur.
“ Mari pulang Nda, sudah hampir maghrib” Dua telapak tangan di bahuku masih menguatkanku untuk saat ini. Dia membuyarkan ingatanku beberapa tahun lalu.Dokter lulusan lulusan Jerman mengurus kelumpuhanku setelah semuanya tiada kini menjadi suamiku. Dia mendorong kursi rodaku. Aku dan suamiku melangkahkan kaki meninggalkan makam Ibu, Bapak, dan adikku.














0 comments:

Post a Comment