20 June 2014

Dari Soto ke Politik



Selamat membaca ^^

               Pagi ini, saya sedang sibuk mengerjakan deadline kerjaan saya. Awalnya saya bahas tentang soto Lamongan dengan dosen saya via BBM. Ya, bersyukur sekali punya dosen yang bisa diajak berdiskusi via chat. Biasanya ada dosen yang sok sibuk, sok ngajar, bahkan balas pesan mahasiswanya pun lama sekali (pengalaman pribadi). Nah, jadi saya memancing dosen saya tersebut, “Oke, Pak, salam dua jari, jangan lupa pilih Pak Jokowi.” Saya sok ngerti, sok cerdas, sok pintar tentang politik. Padahal, duhileh sekali, tidak paham total, belum paham lebih tepatnya.

               Jadi, intisari dari percakapan yang saya ambil dari dosen saya tentang politik sekarang.

1. Pak, bagaimana pandangan politik menurut Bapak, untuk saat ini?
               Nanti saja kita pilih mana yang lebih baik dari yang kemarin. Pak Prabowo-Hatta, atau Pak Jokowi-Jk. Jangan terlalu dipikirkan, karena kita masih premature. Jadi, lebih baiknya kita mengumpulkan data-datanya saja, data pengalaman mereka, maupun dari media atau dari fakta yang kita lihat sendiri. 

2. Saya ini termasuk pemilih labil, suka ikut-ikutan Pak, ya bahkan sebagian dari teman sesama mahasiswa pun begitu. Jadi pendapat Bapak sendiri, bagaimana?
               Dua-duanya mempunyai daya rusak yang sama, tak ada yang sempurna. Sekarang, mana yang daya rusaknya lebih kecil, mari kita pilih. Memang sangat subjektif, tapi setidaknya itu merupakan pertimbangan rasional untuk menentukan pilihan. Apa lagi orang-orang yang berada di Jakarta dan mengikuti proses politik, bukan sekadar yang tampak di media.

3. Menurut Bapak, jika diterawang, siapa yang akan menduduki kursi presiden?
               Bukan penerawangan dan prediksi, ini kerja keras kedua calon untuk merebut simpati rakyat. Jadi, jangan terlalu percaya pada prediksi, penerawangan, dll. Kadang semuanya beda dengan realitas di masyarakat. Menurut saya masing-masing punya peluang dan pendukung pemilih yang sudah terpolar dang gampang dipengaruhi.

4.  Agar tidak salah pilih itu, bagaimana? Khususnya untuk pemilih yang masih labil dan belum paham betul dengan politik?
               Pilih saja yang kamu yakini. Ingat, tidak ada yang sempurna. Pilih saja yang kamu percaya baik dengan berbagai pertimbangan, sederhana toh. Selalau ada pilihan, tinggal kita yang pilih.

               Percakapan ini dengan dosen AWS (Almamater Wartawan Surabaya) yang sekarang sudah di Jakarta, tepatnya di KPID Jakarta.
               Membahas politik, tidak harus sesama orang yang mahir politik, tidak harus di tuliskan lewat media sosial, dan menjunjung calonnya. Kita bahas lewat chat pun bisa. Dan tidak usah saling menghina, ataupun merendahkan capres-cawapres yang tidak kita pilih. Tidak ada yang sempurna.

Saya Aya, semoga bermanfaat.

Terima kasih ^^


4 comments:

  1. betul itu selalu ada pilihan..

    Salam ^^

    www.pearlsgarden.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, sudah berkunjung, okeh merapat ^^

      Delete
  2. Pembahasan soto lamongannya mana nih?!! =p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Kak. Gak jadi bahas soto. Terima kasih sudah membaca, Kak ^^

      Delete