07 December 2014

SAYA PERNAH DIPENJARA

SUMBER; PINTEREST


            Terhitung enam tahun saya dipenjara....

            Hawanya beda, orang-orangnya beda, peradabannya pun beda, banyak yang beda dengan hari sebelum-sebelumnya. Tiba di penjara, aku pun melongo. Tiba di depan pagar penjara, mobil Ayahku mulai pelan. Kaca jendela pun kubuka. Aku mulai memperhatikan suasana sekitar. Gila, jilbabnya, pada panjang semua. Pakai rok panjang, baju pun syar’i. Dan, aku pun melihat baju yang kupakai sekarang, memakai celana jeans, dan kaos ketat. Pakai jilbab pun, gak kayak mereka. Akkkk, Ibuuukk!! Ini mah bener-bener dipenjara.

            Istanmbul.. 2007

            Alhamdulillah, sudah sampai di Istanmbul. Menghela napas, lega. Keluarga sudah pulang ke kampung. Dan, aku di sini sudah kayak biji durian. Dibuang sendirian. Alamak! >,<
Saatnya bongkar koper, mau mandi, gerah. Dan, astaga. Ibu gak bawain aku baju syar’i satu pun. Rok panjang pun gak dibawain.
            “Bu, aku gak usah bawa rok nih?,”
            “Gak usah, Nak. Nanti kamu susah jalan” kata Ibu sebelum aku berangkat ke penjara.
            Lagi-lagi menghela napas di dalam kamar. Gimana keluar dari sini? Akk! Jadi, aku tetap bersihkeras keluar dari kamar, make celana jeans. Tiba-tiba ketemu sama Kakak cantik berjilbab.
            Ukhti, limaadzaa tasta’miliina bantol?”seorang perempuan cantik berbicara menghadap ke padaku.
            “Kakak ngomong sama saya?” Aku pun melongo, gak paham apa yang dia maksud.
            Maa tafhamiina lughoh ‘arobbiyah?” dia masih bersihkeras menggunakan bahasa yang aneh didengar telingaku.
            “Kakak ngomong sama saya?”
            “Iya, kamu tidak paham bahasa Arab? Kamu kenapa pakai celana jeans. Kamu tahu di sini tidak boleh memakai celana, apa lagi celana jeans. Kamu pasti anak baru,” tutur katanya mulai lembut, memesona. Untung saja dia perempuan.
            Iya, maaf, Kak. Saya anak baru.” Aku pun sambil menundukkan kepalaku.
            “Setelah ini, ganti celanamu ya, Dek. Pakai rok panjang, dan pakai jilbab yang menutup dada,”
***
            Syukurlah, setelah seminggu lamanya, Ibuku mengirimkan pakaian syari’i ke sini. Dijenguk pun hanya sebentar. Setiap hari sudah full kegiatan, mulai dari bangun pagi, sampai jam sepuluh malam. Ibu, tengoklah anakmu ini. Makan setiap hari cuma pakai tahu, tempe, sayur. Hanya bentuknya saja yang berubah, tapi rasanya sama. Kalau ndak lari-lari ke dapur umum, mana dapat aku jatah makan? 

            Masih di Istanmbul....
                                                                        ***

*Ukhti, limaadzaa tasta’miliina bantol?= Dek, kenapa kamu pakai celana?
*Maa tafhamiina lughoh ‘arobbiyah?= Kamu tidak paham Bahasa Arab?

This entry was posted in

1 comment:

  1. beneran nih pernah dipenjara???hahaha...wah latar tempatnya kok istanmbul ya...itu mah keren banget Ya,,,

    ReplyDelete