16 February 2015

[18]- Untuk Nona Bermata Cokelat



           
            Kepada                      : Nona yang Bermata Cokelat

            Perihal                        : Kecewa

            Nona, di sini akhir-akhir ini langit suka menangis. Apakah di kota Nona juga seperti ini? Nona pernah berkunjung ke kota saya, bukan?  Tapi Nona, belum menemui saya, bukan? Saya kecewa, Nona. Saya menunggu berjam-jam di kamar kos saya, yang sedikit mungil, dan tidak ber-AC. Memang kamar kos saya tidak ber-AC hanya memiliki kipas yang lumayan kecil. Terkadang, baling-balingnya berputar sangat kencang, seperti gebetan yang suka ngajak pacarnya keliling tanpa tujuan. Asal Nona tahu, saya menunggumu dengan berkeringat, karena listrik yang sedang padam. Dan, Nona juga harus tahu, dalam keadaan menunggumu saya kelaparan, di luar pun hujan. Saya harus apa, Nona? Kalau saya tidak menunggumu, mungkin saya sudah pergi keluar hujan-hujanan untuk makan sendirian di warung makan yang kecil. Dan, saya bisa membeli rendang, soto, ataupun bakso dalam kemasan mie instant.

            Ketika itu, Nona berjanji ingin menemui saya setelah pesawat yang Nona tumpangi mendarat. Dari tujuan Kupang menuju Surabaya. Tapi, da aku mah apa atuh, Nona? Hayatii lelah, Nona. Berbi kesal. Rasanya saya ingin manggung bareng Mbak Cita Citata. Nona, saya tulis surat ini untuk Nona yang mempunyai perangai yang indah. Mata cokelatmu, yang selalu mengingatkan saya. Bicara dan tutur katamu, yang selalu mendinginkan saya. Dulu, kita sempat bertemu, tapi tidak berbicara sedikit pun. Nona yang tiba-tiba pergi meninggalkan saya tanpa pamit. Padahal, Nona tahu, kita dipisahkan sudah berapa tahun lamanya. Tiga tahun, mungkin. Bagi Nona sebentar, bagi saya lama. Nona tahu kenapa? Tiga tahun hidup menjomblo, bagi saya sangat sangat lama, Nona.

            Nona bermata cokelat, saya harap, sebentar lagi kita dipertemukan. Meskipun kita berkawan dan tervonis memiliki hubungan jarak jauh, yang terpenting kita saling mendoakan. Saya mendoakan untuk kesuksesan kita, semoga Nona pun begitu. Jadi, semoga Nona sadar diri, surat ini bukan surat cinta, tapi surat perihal kekecewaan saya terhadap Nona. O, ya, saya dengar, Nona sudah punya kekasih baru, ya? Dia seorang laki-laki, bukan? Saya sedikit indigo, pasti tahu. Untuk membicarakan kekasih barumu, sepertinya cuma itu saja. Baiklah, Nona. Mungkin, surat saya sampai di sini saja. Satu lagi, saya kangen kamu, sekangen kangennya. Terima kasih, Nona. Semoga kaumembaca surat saya. Selalu ada doa untukmu.

            Surabaya, 16 Februari 13:13 WIB

Tabik, Kawan...


Hari ke-18 dalam program #30HariMenulisSuratCinta



5 comments:

  1. "Tiga tahun hidup menjomblo, bagi saya sangat sangat lama, Nona."
    hahahahahahahahahhahahahahahahahahahahahahahahahahahaaaa

    ReplyDelete
  2. sumpah ngena pas di hatiku
    Kamu luaar biasa kejam wkwk 😂😭😭

    ReplyDelete