04 February 2015

[6] Nona Titi Lumbini


Tabik, Kawan-kawan.....

            Nona, lama tidak ada kabar. Saya sering cari tahu Nona, tapi apa daya saya tidak punya banyak teman Nona yang saya kenal. Pertama, saya ingin tahu bagaimana kabarmu, Nona? Nona, saya lama tidak tahu bagaimana keadaanmu. Nona masih ingat, kapan kita bertemu? Dari awal mula twitter Nona yang sering lari-lari di timeline saya, sampai saya bertemu Nona Titi Lumbini sesungguhnya. Nona anggun, apapun itu darimu. Saya sangat suka Nona, ketika Nona berbicara dengan saya. Nona, masih ingat pertemuan kita di sebuah acara yang sangat mewah di Malang? Saya tiba-tiba duduk di samping Nona, kemudian Nona menjabat tangan saya. Nona, manis. Kita mulai bercerita, siapa diri kita masing-masing. Duh, Nona, kau masih ingat joget di depan saya? Nona, cari perhatian di depan saya. Nona, kelakuanmu sangat aneh, tapi saya benar-benar terhibur. Sayang pertemuan kita hanya beberapa jam saja. Untung saja, saya bisa menyempatkan foto bersamamu, Nona. Terima kasih.

            24 Januari kemarin, Nona berjanji bertemu dengan saya di Surabaya di sebuah acara. Mana? Hidungmu yang mancung tidak saya lihat. Nona bohong? Akun twitter Nona pun, sudah lama tidak pernah ngoceh di sana. Nona, Nona Titi Lumbini di mana? Saya lelah mencari Nona.  Nona, saya kecewa. Rindu saya pada Nona belum terbayar tuntas. Di gedung di mana acara berlangsung, saya masih mencari Nona. Bodohnya, handphone saya mati. Dan, saya masih bertanya ke pelaksana acara.

            “Kau lihat Nona Titi Lumbini?”
            “Dia tidak datang,”katanya. Hati saya tiba-tiba kacau, Nona benar-benar tidak datang.

            Dan ketika perjalanan saya pulang menuju rumah, saya melihat perempuan berjilbab hitam. Paras wajahnya cantik, tubuhnya langsing, dan tingginya pun mirip denganmu Nona. Saya ingat, terakhir foto profil whatsappmu menggunakan jilbab. Kau beralasan, itu foto setelah kondangan. Nona, ada-ada saja. Oh ya, tentang perempuan itu, dia berjalan di pinggir jalan, saya memanggilnya dengan namamu. Ternyata bukan, dia hanya penjual kerupuk udang yang menjajakan kerupuknya di pinggir jalan. Sial. Nona.. kau di mana?

Musim hujan sudah datang, apalagi Surabaya. Semoga hujan pun tahu, saya benar-benar rindu denganmu, Nona. Saya harap, Nona baca surat ini. Ini surat saya yang keenam untukmu Nona. Ya, meskipun tidak ada amplop ataupun perangko. Surat ini hanya dibubuhi rindu dan cinta untuk Nona, semoga tersampaikan.

Ditujukan untuk Nona Titi Lumbini @gincuMerahhh

Hari ke-6 dalam program #30HariMenulisSuratCinta


0 comments:

Post a Comment