04 February 2015

[5] Tidak Ada Rindu yang Sia-sia



Tabik, Kawan-kawan...

Surat kelima, tidak penting kautahu ini surat untuk siapa?  Kepada siapa? Dan untuk apa, saya tulis surat ini? Tidak ada untungnya bagimu bukan, kautahu ini tertuju untukmu atau bukan. Saya hanya ingin tahu, bagaimana kabarmu untuk saat ini? Bagaimana rasanya kehilangan rasa cinta yang tiba-tiba hilang. Perlu kautahu, ada beberapa hal yang terpaksa saya meninggalkanmu. Mungkin sekarang saya ceritakan, untuk hal yang pertama.

Saya meninggalkanmu dengan tiba-tiba. Itu, karena beberapa bulan yang lalu saya bekerja di sebuah kantor. Sebut saja kantor itu bekerja di bidang pakaian. Hanya sebulan saya bekerja di kantor tersebut, tapi saya rela keluar meskipun salary yang saya dapat lumayan besar. Itu karena, saya bekerja dan bertemu perempuan. Bukan dunia yang sempit, tapi pertemananmu yang luas. Ya begitu kata Pak Mario. Dia perempuan yang manis, saya sempat dekat dengannya. Beberapa kali saya dan dia sering curhat. Dan, saya memberanikan diri untuk bercerita tentangmu. Saya sempat kaget, ternyata dia mengenalmu lebih dari saya mengenalmu. Oh, rupanya kau juga sempat dekat dengannya. Dan, masih dekat. Mungkin, di satu sisi, saya kecewa. Kecewa, karena saya yang terlalu ceroboh. Terlalu cepat jatuh cinta lagi. Dalam diri saya, saya menangis sedalam-dalamnya. Saya menguatkan bibir saya untuk tersenyum. Tapi, sulit. Dan, beberapa kemudian saya berniat mengundurkan diri dari kantor tersebut. Mungkin, perempuan itu sempat bertanya, mengapa saya keluar dengan tiba-tiba. Dari dulu, saya berjanji dalam diri saya. Saya tidak mau menjadi orang yang pandai tikung-menikung. Ya, begitulah istilahnya.

Beberapa hari yang lalu, perempuan tersebut tiba-tiba datang ke saya, dan mengajak saya untuk menjengukmu. Katanya, mungkin memorimu akan kembali, kalau kau bertemu denganku lagi.
“Kau tidak mau menjenguknya?”
“Untuk apa?”
“Cobalah kaujenguk, mungkin dia akan senang”.
“Ya, mungkin. Kau saja yang jenguk, mungkin dia lebih tersenyum, bukan?”

Kau jangan marah, karena sikapku ini. Saya berusaha menjauh, karena dijauhkan. Asal kautahu, saya masih rindu denganmu. Dan, saya yakin, rindu ini tidak sia-sia. Ya, meskipun faktanya sangat sakit memendam rindu terlalu lama. Mengembalikan ingatanmu, itu hal yang sulit untuk saya. Saya bukan siapa-siapa. Keluarga bukan, teman bukan, apalagi pacar. Mungkin menurutmu, saya adalah teman yang jahat dan kemudian, menghilang. Jangan khawatir, selalu ada doa untukmu.

Dari: Perempuan yang hilang

Hari Ke-5 dalam program #30HariMenulisSuratCinta

4 comments:

  1. Ohh jadi dia yang memisahkan kalian padahal rasa rindu itu masih ada. Uhuk :))

    ReplyDelete
  2. Merinding kalau ada yang tikung menikung gitu. Hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Kak. Jangan sampai deh kita nikung, ya kalik, kayak kehabisan jodoh, hueheuehe. :D

      Delete