Powered by Blogger.

Menilik Hikayat Cagar Budaya di Surabaya

by - November 10, 2018

Surabaya, salah satu kota yang berperan penting pada peristiwa 10 November dan turut andil dalam saksi bisu jaman penjajahan hingga merdeka. Tak ayal, jika akrab disebut Kota Pahlawan. Hari itu, saya menilik beberapa cagar budaya yang cukup menarik di antaranya;
 
Museum WR. Supratman
Museum W.R. Soepratman
Rumah yang berlokasi di Jl. Mangga no 21- Kelurahan Tambaksari tersebut masuk dalam gang yang cukup sempit, mudah sekali menemukannya, di tengah-tengah jalan yang membelah kampungberdiri kokoh museumW.R. Supratman dengan gaya unik, berbentuk segitiga untuk  bagian depan. Di halaman depan terdapat replika patung pencipta lagu Indonesia Raya dengan gambaran ekor biola yang ditempelkan di dagu, sembari berdiri tegap. Museum W.R. Supratman tidak begitu luas, dan tidak terlalu sempit, di ruangan pertama terdapat bingkai foto W.R. Supratman dengan ulasan sejarahnya. WR. Supratman selain menjadi seorang musisi beliau juga wartawan di surat kabar Sin Po. Di tengah karirnya yang hebat beliau pernah dipenjara di Kalisosok karena kata “merdeka” tersemat dalam lirik lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan pada Kongres Pemuda II Yang melahirkan Sumpah Pemuda 28 Oktober tahun 1928, sehingga mengundang kemarahan pemerintah kolonial.
 
berpose depan museum
WR. Soeprtman dalam buku
menilik sejarah
Dupikat biola W.R Soepratman
last word
Di samping itu rumah W.R. Supratman memiliki dua kamar, pertama kamar berisi dipan (tempat tidur) mendiang, dan kamar lainnya terdapat pigura foto-foto beliau, begitu juga replika biola. Kesehatannya semakin memburuk karena penyakitnya yang cukup keras. Di dalam ruangan terakhir menempel kata-kata W.R. Supratman sebelum meninggal dunia yang diucapkan pada Pak Oerip saudara iparnya, “Nasibku sudah begini, inilah yang disukai Pemerintah Belanda. Biarlah saya meninggal, saya ikhlas, saya toh sudah beramal, berjuang dengan caraku, dengan biolaku, saya yakin Indonesia pasti merdeka”. Pada 17 Agustus 1938 W.R. Supratman menghembuskan napas terakhirnya di Jl. Mangga 21, oleh sebab itu tempat tersebut dijadikan museum untuk mengenang karya dan hikayatnya.
 
plakat cagar  budaya
sudut menara
berpose
beralih fungsi
Penjara Koblen
Selain Penjara Kalisosok yang mashur di Surabaya, di sinipun terdapat Penjara Koblen berlokasi di Surabaya Utara tepat di Jl. Yayasan Praja- Bubutan.Penjara yang sudah berdiri sejak tahun 1930 memiliki sekitar 3,8 hektare dengan dua menara pengawas yang terdapat di dua titik. Sayangnya menara tersebut kurang terawat, beberapa pondasinya rusak. Guna menara tersebut sebagai mengawasi aktivitas tahanan. Penjara Koblen dikelilingi tembok dari rangkaian batuan yang cukup kukuh dengan tinggi sekitar 3 meter. Dari pelbagai sumber refrensi yang ada yang pernah mendekam di Tangsi Koblen adalah pendiri NU KH Hasyim Asy’ari selama tiga bulan, dan ada juga pendiri Sampoerna, Liem Seeng Tee. Namun, Penjara Koblen yang sudah diresmikan sebagai cagar budaya sejak tahun 2009, kini menjadi tempat parkiran kendaraan.
 
Add caption

Add caption

berpose
anak kos
Add caption


Rumah HOS Tjokroaminoto
Selain menjelajahi Museum W.R Supratman dan Penjara Koblen, tampaknya saya belum merasa puas, akhirnya beralih ke rumah pemimpin Srekat Islam, HOS Tjokroaminoto yang berlokasi di Gang Peneleh VII No. 29-31. Bangunan dengan dominan warna krem dan tosca mempunyai banyak perubahan, pastinya tidak mengubah dari bentuk aslinya. Di ruang tamu terdapat satu set kursi kuno, dengan beberapa foto yang menempel di dinding. Rumah tersebut memiliki dua ruangan bawah dan atas, di kamar bawah menjadi ruang pribadi HOS Tjokroaminoto. Selain itu terdapat loteng dengan tangga besi yang kini menjadi penghubung ruangan bawah dan atas. Kamar atasdengan luas 2x4 meter rupanya pernah menjadi kamar Soekarno, yang kini sudah dibiarkan kosong.

Foto-foto yang menempel di dinding rupanya cukup detail menjelaskan siapa saja yang menjadi anak kos Gang Peneleh, di antaranya; Kartosuwiryo, Alimin, Semaun, dan Sukarno.  Tidak dipungut biaya,pengunjung bisa belajar sejarah.
 
walk
bilik penukaran uang


Museum Bank Indonesia
Penjelajahan terakhir, ke Museum Bank Indonesia biasa juga disebut De Javasche Bank dalam Bahasa Belanda. Berlokasi sedikit menyelinap di antara gedung-gedung tua di sekitar JMP (Jembatan Merah Plaza) tepatnya di Jl. Garuda NO.1 Surabaya. Gedung yang lumayan tinggi namun tidak terlalu menjulang memiliki aksen bangunan dengan warna putih. Mungkin untuk beberapa orang, termasuk sayagedung tersebut terkesan magis. “Kalau hari biasa cukup sepi, Mbak. Mbak saja yang masuk waktu sore baru pengunjung pertama,” kata penjaga museum.. Di ruangan pertama atau basemant, pengunjung disuguhkan contoh uang jaman duhulu, beberapa mesin cetak, serta CCTV pada jaman Belanda. Beberapa ruang memiliki cermin datar guna mengawasi berankas di dalam bank dan mencegah kejahatan, pastinya berbeda dengan CCTV modern saat ini.

Di lantai kedua dengan ruangan cukup luas terdapat bilik-bilik untuk transaksi, pun terdapat pintu putar pada jaman Belanda. Lantai paling atas yakni lantai ketiga adalah ruangan arsip, pengunjung dihimbau untuk berhati-hati. Senangnya jika berkunjung ke Museum Bank Indonesia tidak dipungut biaya, alias gratis.

Dari keempat Cagar Budaya di atas, tak dinyana Surabaya masih mempunyai puluhan cagar budaya yang memiliki cerita bersejarah. Jika berkunjung ke Surabaya, kalian lebih tertarik ke mana, nih?

Selamat Hari Pahlawan

Tabik,

You May Also Like

2 komentar

  1. ke surabaya cuma ke bandaranya doang. belom sempet jalan-jalan kayak gini. nyobain makanannya pun belom pernah.

    masih penasaran, padahal museum yang ada di indonesia, banyak. tapi pengunjungnya sedikit ya. padahal seru-seru aja bisa melihat kenangan seperti itu.
    gue jadi bangga nih karena satu hal yang mirip dengan sok bung karno. sama-sama anak kost. asique~

    ReplyDelete
  2. Aku kudu main-main ke Surabaya. Masa ke sana nggak menyusuri sudut-sudut sejarah, malah cuma numpang lewat :-(

    ReplyDelete