30 November 2014

Love is Coffee




                                                           Sumber foto
            Single espresso. Lagi-lagi aku menemuinya di tempat yang berbeda dan ditemani orang yang sama. Cukup dengan secangkir yang mungil, kusesap, kemudian kuseduh. Bertemu denganmu lebih cepat daripada bertemu dengan single espresso. Dia bilang kopi tidak baik untuk pekerjaanku, kesehatanku, dan keseharianku. Dan kau sendiri berkata lain darinya, “minum saja selagi kauhidup. Kalau kaumati, kopi pun hilang meninggalkanmu.” Aku pun menyeduhnya, sembari melihat wajahmu, manis.

            Terima kasih untuk secangkir kopi malam ini, dan begitu pula untuk kasihmu. Ini pertemuan kita, kali pertama kita singgah di kedai kopi dan menikmatinya. Malam ini syahdu! Aku pun gugup, harus berkata apa dari ucapan “I love you- mu untukku”. Untuk mencairkan suasana, aku mengalihkan pembicaraan. Aku tanya bagaimana kuliahmu, pekerjaanmu, dan keseharianmu. Tapi kau tetap diam, membisu. Dua bola matamu masih tertuju pada mataku. Kopi! Aku pun berpura-pura mengaduk kopi di depanku. Untung saja yang kupesan single eksresso, yang rasanya pahit di lidah, begitu pun di tenggorakan. Tapi, karena dia, terima kasih. Memang kopi bisa menolongku ketika suasana sedang canggung untuk dua insan dalam kedai kopi yang meskipun ramai. Untuk jawaban, tunggu hari esok.

Tulisan ini dipersembahkan untuk #DibalikSecangkirKopi @IniBaruHidup


Twitter:           @cewealpukat
Facebook:       cewe alpukat


4 comments:

  1. ayaaaa,,aku juga suka kopiiiii :) itu cintaku jugaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lain kaliii ngopi bareng hayuukkk Mbakkkk :*

      Delete
  2. My lovely is cofee :) apalagi diminum pas ujan-ujan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Minum kopi, hujan-hujan, sendirian. Asyik, gitu? hahha

      Delete