30 November 2014

Kau dan Kopi, Sama!




Sumber foto: indianexpress.com

    “Satu cangkir saja sudah cukup, bukan?” tanya Charo padaku, pria bertubuh tinggi, berambut ikal, dan mempunyai satu lesung pipi yang menyelip di samping dagunya ketika dia tersenyum. Sembari mengambil secangkir kopi di depannya yang diberikan dari seorang Barista. Charo hanya memberikan senyuman kecil padanya.

     “Kau tidak bosan, setiap malam kaumenghabiskan malammu di kafe ini, dan menghabiskan beberapa cangkir kopi?” tanyaku sambil menopang dagu, kemudian menyesap kopi di depanku. Aromanya memang benar-benar beda. Lebih harum dari wewangian yang kusuka. Lebih segar dari bau tanah yang baru tersiram air hujan. Setahun lamanya aku berhenti minum kopi, karena insomnia yang membunuh tidurku. Dan sekarang aku menjumpainya di sini, rindu pada secangkir kopi memang membuat candu. Sekali kusesap, dua kali kusesap, aromanya memang segalanya untuk menemani malam. Aku masih memegang kopiku dengan dua tanganku, semoga dia memberi kehangatan.

    “Buat apa bosan? Untuk sesuatu yang memang benar-benar indah, bagiku bukan bosan, melainkan candu. Satu cangkir kopi saja tidak cukup bagiku, apa lagi untuk menceritakan kopi hanya dalam waktu sebentar saja,” Charo menjawabnya dengan santai dan menyesap kopinya untuk ke sekian kali. Dia sambil melihat Barista cantik yang mengantarkan kopinya tadi. Satu cangkir kopi habis dalam waktu tiga puluh menit, itu memang hobinya. Charo mengangkat cangkirnya ke arah Barista cantik tadi. Dia pun datang dan membawa hot coffee latte.

    “Terima kasih, sayang,” Barista cantik pun memberikan secangkir hot coffee latte di hadapannya. Charo mempersilakan Barista cantik itu duduk di sampingnya.
    “Hm,, masih kurang apa hidupmu? Sudah punya kekasih Barista cantik, dan punya kafe sebesar ini?” aku meledeknya.
     “Tanpa kopi, semuanya terasa hambar. Tidak ada kopi, tidak mungkin hadir kafeku ini. Begitu pula, tidak ada kopi, tidak mungkin hadir kekasihku yang cantik ini. Perlu kautahu, kopi dan kekasihku ini, sama”
    “Kenapa bisa gitu ?”tanyaku memotong pembicaraannya.
    “Keduanya, sama. Sama-sama memikat dan mengikat” Charo pun mencium kening kekasihnya. Aku hanya tersenyum melihat sepasang kekasih di depanku ini. Charo sosok yang romantis, tapi maaf single espresso di depanku ini lebih romantis.



Tulisan ini dipersembahkan untuk #DibalikSecangkirKopi @IniBaruHidup


Twitter:           @cewealpukat
Facebook:       cewe alpukat


 

0 comments:

Post a Comment