11 February 2015

[13] - Luka

SUMBER FOTO


            Gadis, menghitung hari sampai detik ini. Terhitung  sembilan bulan, lebih. Eghon masih di atas kursi roda. Lelah pun tidak terasa, Gadis menyayanginya. Ia butuh dukungan, Eghon Firmansyah. Sembilan bulan di atas kursi roda, belajar jalan, namun masih tertatih-tatih, bahkan lebih pintar anak kecil yang usianya beranjak satu tahun. Jatuh, berjalan, jatuh lagi. Nama Ibunya pun dia lupa, dia masih ingat Tuhan? Tidak, dia lupa. Memorynya hilang, kemana? Entah. Karena perempuan, yang tidak cantik, manis pun tidak, apalagi pintar. Tapi Eghon menyayanginya. Sayang yang dalam, melahirkan luka. Eghon belum siap jatuh cinta, sekali jatuh, sakit sedalam-dalamnya.     
  
            “Siapa perempuan itu? Akan kuambil pisau dan kusayat lehernya,” kata Gadis mengamuk di depan cermin. Wajahnya pucat pasi.

            “Jangan balas dendam, terima saja takdir yang dialami Adikmu,” jawab perempuan tua berkonde.

            “Kebaikan dibalas kebaikan, sayang dibalas sayang, begitupun kejahatan,” jawab Gadis.

            Eghon berjalan tertatih-tatih, memeluk Gadis, mendekapnya erat, dan mencium keningnya. Meneteskan air mata. Ingatannya sedikit pulih, dia mulai bisa membedakan, mana Gadis, Ibunya, dan Ayahnya. Bahkan, Iren perempuan yang pernah menjalin kasih dengannya pun, dia mulai ingat.
Kecelakaan yang menyebabkan amnesia, kulit wajahnya sedikit mengelupas, dan cidera di kakinya. Wisuda untuk tahun ini, gagal ia raih. Untuk saat ini, belum saatnya Eghon untuk bahagia, mungkin besok. Untuk jatuh cinta lagi, pada perempuannya, sangat mustahil. Jari manis Iren sudah tersemat cincin, dia telah menikah. Kesedihan yang beruntun, hati, fisik, semua. 

“Gadis pergi dulu, Bu,” sembari membawa pisau yang dimasukkan ke dalam tasnya.

“Ke mana? Jangan cari masalah, kau perempuan, Nak,”

“Gadis mau mengantarkan pisau ke Mas Dudung, Bu, ini pisau miliknya. Kemarin, Gadis pinjam buat motong ayam,” jawabnya kemudian mencium tangan Ibunya. Gadis pun berjalan ke arah Eghon, dan berbisik ke telinganya “Kau cepat sembuh, Dek. Percayalah, semua akan berakhir,” Gadis mencium kepalanya.


Hari ke-13 dalam program #30HariMenulisSuratCinta



           

3 comments:

  1. misiiii, numpang lewat. . .
    :')

    ReplyDelete
  2. Sedikit menghilangkan penat dengan tumpukan aksara yang tersusun rapi dalam suratmu :)

    ReplyDelete