14 February 2015

[16]- Renjana

DOKUMEN PRIBADI

Saya punya sebuah janji, dan kamu pun begitu. Janji untuk saling membahagiakan diri kita masing-masing, pasti. Saya tidak pernah memujimu, kau tampan, manis, atau apa. Memang benar, kau tidak seperti itu. Tapi, kau benar-benar mengasyikkan. Sembari saya menulis surat ini, saya melihat beberapa fotomu. Kau selalu berkarisma ya, ternyata. Bagaimanapun keadaanmu, kalau saya lihat sebenarnya kau sedikit manis. Cuma sedikit. Ketika kauterbaring di atas kasur biadab di ruang ICU, ketika kaududuk di atas kursi roda, dan ketika kauberjalan tertatih-tatih. Sedari kaumengenalku, dan sampai tidak mengingatku, kau masih mengasyikkan. Mungkin, ketika pertemuan kita dulu, kita dalam zona kasmaran. Saling perhatian, saling ingin tahu, dan sampai pendekatan. Begitupun, dimana kita jalan berdua. Terima kasih. 

O, ya sekarang bulanmu, kan? Saya tahu itu. Kauingat tidak, dengan janji sebaskom ice cream? Ingat denganku saja, tidak. Apalagi dengan ice cream. Tenang, saya tidak memedulikan semua itu. Yang saya mau, kausembuh, dan kembali seperti dulu. Ya, meskipun kata dokter itu membutuhkan waktu yang lama, dan dukungan dari orang yang menyayangimu, termasuk saya. 

Kita yang dipertemukan, kita yang menjalani, dan kita yang masih berjuang. Bukankah ini sebuah luka? Apakah abadi? Kita harap tidak. Kita menangis untuk yang kesekian kali, semoga tidak akan terjadi. Saya ingat, ketika saya berpura-pura menjadi tunanganmu agar diberi izin untuk memasuki ruang ICU.

“Anda keluarga pasien?” seorang perawat berparas cantik, tapi lebih manis saya, dia bertanya pada saya.

“Iya,” jawabku singkat.

“Tunangan?”

“Iya, saya boleh masuk?”

“Boleh, tapi hanya dua menit, jam besuk mau habis. Silakan,” apa? Dua menit? Saya tercengang. Melihatmu dalam keadaan seperti ini hanya dalam waktu dua menit. Dan, ini hari terakhir saya di Kotamu, untuk besok saya akan pergi. Hanya sebentar. Memasuki ruang ICU, saya melihat wajahmu, dan saya pun meneteskan air mata. Saya menunggumu sampai sadar, dan sekarang pergi. Sepedih ini, luka yang kita alami. Sekarang bukan saatnya untuk menyalahkan. Apalagi menghakimi luka. Yang paling penting, apakah kita masih bisa melawan luka? 

Meskipun kita berjarak, percayalah selalu ada doa. Kau tidak percaya. Coba kautanyakan pada Tuhan. Dia tahu, untuk siapa saya berdoa, dan untuk apa? Kesembuhanmu, Kawan. Boy scoot, begitu saya memanggilmu.

Tabik, Kawan...

Hari ke-16 dalam program #30HariMenulisSuratCinta

























3 comments:

  1. adakah kesinambungan antara judul dan isi surat? dan juga agak aneh melihat percakapan dalam sebuah surat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada, Kak. Renjana kan artinya rindu, kasih sayang. Ya saya itu sedang rindu, pada orang tersebut.
      Untuk percakapan, itu kan ingatan saya waktu menjenguk orang yang tertuju dalam surat, Kak. Dan saya tulis percakapan itu. :)

      Delete