20 February 2015

[22]- Lelaki Terhebat



            Surat keduapuluh dua, ya? Untukmu (lagi), Ayah. Yah, kamu laki-laki yang terhebat yang saya kenal. Dari dulu, dari saya keluar dari rahim Ibu. O, ya akhir-akhir ini Ayah sering mengeluh sakit, Ayah kenapa? Ayah jaga kesehatan. Maaf kalau putrimu ini sering cuek, bandel, nakal. Tapi, saya tetap sayang Ayah. Yah, saya pernah berpikir, pernah gak ya, ada lelaki yang mencintai saya yang cintanya melebihi kamu. Sepertinya tidak ada, Yah. Yah, andai pernikahan itu tidak wajib bagi manusia, saya rela tidak mau dipersunting lelaki lain, saya pengin tinggal bareng Ayah saja. Ayah dari kecil gak pernah memukul saya, berkata kasar pun tidak. Mungkin, sebaliknya, saya yang sering marah sama Ayah. Maaf, Yah. Yah, saya tidak mau menuliskan surat ini terlalu panjang, saya takut mengganggu kerjamu. Jangan lupa seduh kopimu sebelum bekerja, Yah. 


            Tertanda:        Saya putrimu yang mencitaimu


            Surabaya, 20 Februari, 12:03 WIB


Tabik,


Hari ke-22 dalam program #30HariMenulisSuratCinta

1 comment:

  1. semoga anaknya yg cuek ini bisa diberi petunjuknya yak, om

    bilang lgsg kyak gtu dong ke ayah lo, ka. hahah

    ReplyDelete