Powered by Blogger.

Senandung Kuta Mandalika, Lombok

by - December 13, 2017

Mengingat ucapan supir yang membawaku ke resort, “Jalanan Lombok itu selalu mulus, Mbak. Mau ke mana saja tidak begitu sulit, lurus terus saja sudah sampai.” Ternyata betul adanya. Hari ini aku melanjutkan perjalanan menuju Lombok Tengah, yaitu Kuta Mandalika. Perjalanan dari arah Lombok Barat menggunakan motor, dan sendiri. Hanya modal GPS, dan sesekali tanya ke penduduk sekitar. 
difotoin orang, sabar ajalah
Ada kejadian lucu, yang membuatku teringat hingga saat ini. Karena sedikit bingung akan jalan, aku sandarkan motorku, dan bertanya ke penjaja bahan bakar ke mana arah menuju Kuta Mandalika, terkejut karena beberapa orang yang sedang asyik di situ, mendekat dan menjabarkan ya sekitar 10 orang menghampiriku dan menjelaskan sambil menunjuk-nunjuk jalanan dengan ramah. Aku hanya tersenyum manis, meskipun tidak paham dengan bahasa mereka, mengangguk berpura-pura akan paham, dan mengikuti arahan mereraka yang ku pahami.
surga banget!
pencari uang

Motor mulai ku gas, akhirnya aku memilih pakai GPS, ya sekitar dua jam dari arah Senggigi. Namun bahagianya aku jalanan di sini selalu lurus, meskipun ada belokan pun itu hanya rambu lalu lintas. Jalanan yang mudah tidak ada hambatan sama sekali, dan di depan sudah dihadapkan dengan tulisan besar Kuta Mandalika.

Cuaca sungguh terik, seakan matahari siang ini sedang pendekatan denganku. Hfft, namanya juga pantai kalau dingin kan sikap kamu. Ngehe! Paras Kuta Mandalika sungguh menggoda, karena sejauh mata memandang pasir putih bak bedak bayi yang panas, begitu dengan ombak yang tenang, kemudian disandingkan beberapa kemolekan bukit membuatku jatuh hati.  
semua pemandangan seperti ini
turis
Ada satu hal yang membuatku tertarik ke sini, konon memiliki cerita rakyat akan Puteri Mandalika yang menerjunkan dirinya ke pantai.  Kemudian menjelma menjadi cacing laut,  konon disebut nyale. Banyak orang meyakini binatang tersebut sebagai jelmaan Puteri Mandalika. Dan akhirnya mereka mengambil binatang itu sebanyak-banyaknya sebagai tanda cinta pada Mandalika. Cerita tersebut menjadi asal mula terciptanya upacara atau pesta Bau Nyale (menangkap cacing) yang dilakukan oleh masyarakat Suku Sasak.


Setelah termenung dan membayangkan Puteri Mandalika sembari melihat hasil fotoku, teriakan salah satu anak membuat lamunanku buyar. Mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar, berkulit hitam, dan sesekali berteriak ke arahku. “Mbak, janganlah foto-foto kami, kalau mau foto kami bayar, jika tidak belilah gelang kami,” Aku terdiam, mereka bukan artis. Aku melanjutkan membidik mereka. Ketiganya menghampiriku, “Mbak, belilah gelang kami, harga panas”.  Apa? Harga panas? Rupanya yang dimaksud harga dari mereka panas-panasan. Baiklah, aku merogoh sakuku dan memberikan selembar uang berwarna hijau. Sempat mendengarkan keluh kesah mereka karena berjualan di teriknya matahari. Anak yang masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, harus melawan panas, hingga kulit mereka menghitam. Sesekali merenung, kadang hidup ini tak adil dan sungguh pelik.
Masjid Nurul Bilad
gerbang utama Masjid Nurul Bilad
Setelah berswafoto dengan gawaiku, ya meskipun kulit mereka tidak sama sepertiku, aku memahaminya. Aku pun bergegas meninggalkan mereka dan berucap terima kasih, dan tabik, semoga esok atau kapan waktu membawaku kembali ke sini. Karena sudah tidak kuat dengan panasnya, dan puas sudah membidik beberapa spot, aku melanjutkan ke suatu masjid, konon masjid ini pernah disinggahi presiden.

Masjid Nurul Bilad begitu yang tertulis, memiliki gaya arsitektur seperti masjid Kuno Bayan di Lombok Utara yang pernah ku lihat di media daring. Sungguh memesona, apalagi beberapa sudutnya mempunyai latar bukit di Kuta Mandalika. Sebenarnya, jika berjalanan menuju tengah sedikit sekitar 20 menit, kalian akan disuguhkan dengan beberapa pantai lainnya. Namun, kali ini aku tidak beruntung, badanku mulai lemah, semoga esok bisa kembali.


Short Tips:

  • Perjalanan menuju Kuta Mandalika sungguh sulit, bisa dijangkau dengan apa saja
  • Bisa digunakan berenang, namun hanya di bibir pantai
  • Cuaca di sini sepertinya selalu terik, silakan gunakan baju yang kontras
  • Hanya membayar parkir 5000 rupiah, Kuta Mandalika bisa dinikmati

ADDRESS:
Kuta Mandalika, Pujut, Lombok Tenga (Setelah Desa Sasak Sade)

You May Also Like

10 komentar

  1. Bentar-bentar; ini jalannya mulus dan nyaman tapi kok kena tilang ya? Buahahahhaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu kesalahan teknis, STNK ku matik wkwkkw

      Delete
  2. Eits sejak kapan masjidnya jadi? Baru ngeh eh masjidnya seperti itu

    Apa lombok mengundang kembali untuk mencari nafkah? Hhahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. balik lagi gih ke Lombok, nanti aku maen ke kamu hooho

      Delete
  3. Mbak, Lombok Tengah ini memang keren parah ya. Akau pernah ngurut satu2 mulai dari pantai selong belanak sampai bukit marese, dari pagi sampe sore. Pas dapet sunset cakep banget. Tapi masih rawan nggak sih sekarang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak rawan kok, buktinya aku pulang dengan selamat. YES

      Delete
  4. aaaahhhh so excited. pengen kesanaaaa

    ReplyDelete
  5. Wuihhh warbiyasak motoran sampe dua jam, Juuuju gitu loh hehehe.
    Maennya jauh skrg, sampe tk terdengar kabar darimu lagi beberapa hari belakangan *mityutowmaaat*

    ReplyDelete
  6. halo salam kenal mbak...ga sengaja terdampar di blog ini, saya selalu anggap perempuan yang solo traveling itu keren! nekat! luar biasa!

    ReplyDelete