29 October 2014

[Book Review] VERSUS By Robin Wijaya


Judul:                    VERSUS
Pengarang:         Robin Wijaya
Penerbit:             GagasMedia
Tahun Terbit:     2013
Tebal:                    398 halaman







Selalu ada harapan diantara perbedaan

    Menceritakan tentang 3 orang sahabat yang mempunyai berbagai prinsip, argument yang berbeda.  Dan keterkaitan dengan teori paradoks yang dicantumkan dalam buku VERSUS ini. Sang penulis hebat sekali, pintar membolak-balikkan cerita beberapa fragmen yang menceritakan kisah masa lalunya tentang 3 orang sahabat tersebut yaitu Amri, Chandra, dan Bima.

Amri yang biasa dengan bahasa gaulnya memakai kata panggilan aku, kamu “ Gue, Lo” . Mempunyai Ayah seorang anggota kepolisian, dan adik yang bernama Danu. Amri sangat sayang sekali dengan adiknya yang mengidap penyakit tuberculosis, yang sama persis diidap Ibunya yang telah meninggal, Amri mempunyai kesukaan dengan lagu yaitu Legenda musiknya Kurt Cobain, ya mungkin pada era globalisasi sekarang sedang maraknya lagunya Justien Beiber. Tapi sayangnya dia ditinggalkan adeknya karena perkelahian antara kampung Anyar dan Kampung Bayah.

Dan ada juga sosok Bima yang khas dengan panggilan dirinya dengan Saya, mempunyai keluarga yang sudah berantakan rumah tangganya. Dia pergi dari rumah dengan kakanya Arya yang mencari uang dengan “ Main Malem” yahanya dngan cara seperti itu dia bias menghidupi adiknya Bima.

Beda lagi dengan sosok Chandra keturunan Tionghoa, yang bermata sipit, keluarganya mempunyai usaha pertokoan barang sembako yang akhirnya ditutup karena anjloknya rupiah, bukan hanya ditutup melainkan tokonya dibakar oleh kampung sebelah. Maka dari itu 3 sahabat mempunyai dendam pada kampung tersebut.

Yang akhirnya Danu, adik Amri meninggal dan begitu pula Bima mokat mendahului mereka.
“ Kalau waktu tak pernah berhenti, maka cara kita untuk bertahan adalah dengan terus bergerak” – Amri on page 152
“ Perselisihan ini tidak akan pernah selesai. Dan aku tahu, kami akan selalu hidup dalam bayang-bayang pertikaian, Lalu, ini adalah cerita turun-temurun yang diwariskan dari generasi-generasi sebelum kami” –Amri

 “Menjadi  dewasa mengajarkan gue kalo hidup itu nggak pernah jadi lebih udah. Lo harus siap menghadapi segala hal yang sama sekali nggak menyenangkan” – Chandra
            “ Saya berkutat dalam masalah mereka membenci perbedan. Saya tidak sedang berusaha mencari kesamaan atau membuat persamaan agar kita bisa saling menerima. Saya berusaha hidup di antara itu semua. Hidup diantara perbedaan” – Bima

 Manusia tidak ada yang sempurna begitu pula dengan saya dan si penulis bang Robin ini, ada beberapa tulisan yang mengalami salah ketik pada halaman 87 yaitu Jumlah menjadi “Jumah” dan pada halaman 393 Justru menjadi “ Justu” hanya salah pengetikan tetapi untung ceritanya masih nyambung dan saya masih paham dengan teori paradoksnya.


0 comments:

Post a Comment