16 April 2014

Secangkir Rindu di Pandawa


Secangkir Rindu di Pandawa
By Aya@cewealpukat
            Apa kau masih mau berpijak di sini untuk kemudian hari? Apa kau masih mau menyuguhkan kopi panas dengan tersenyum sambil memamerkan lesung pipimu? Di dalam lamunanku tertuju pada sosok pria bertubuh kurus, bertatto di lengan tangannya dan lesung pipinya yang pandai memikat.
            “Re,, sudah hampir gelap mari pulang.” Tangan Sandra sudah di pundakku, dia mengajakku pulang meninggalkan pantai ini.
            “Kau pulang saja, biarkanku tetap duduk di pinggir pantai sampai matahari terbit.” Aku sengaja menolak ajakan Sandra karena masih ingin menikmati aroma pantai ini dan rona rembulan untuk nanti malam.
            “Mau menunggu matahari terbit atau menunggu Gandi kembali? Sudahlah jangan konyol Re, dia tidak akan kembali.” Entah tidak ada bosannya aku mendengarkan dia berceloteh dengan gaya bibirnya yang unik. Gaya rambutnya yang bergelombang hanya setengah saja. Style Sandra memang susah dipahami.
            “Mending tutup saja mulutmu dan kembalilah ke bilik rumahmu.” Aku paling enggan mendengarkan celotehan Sandra seperti burung beo peliharaanku. Dia satu-satunya orang yang paling peka dengan perkataanku. Meninggalkanku sendiri di pantai ini. Ah Gandi, sampai kapan aku bisa berhenti memikirkanmu. Gara-gara dia sudah hampir beberapa bulan aku vakum dalam pekerjaanku, beberapa pelanggan untuk job fotopun aku tolak semua.
******
            “Re,, pukul 19:00 aku tunggu kau di Coffee Bean depan Kuta. Aku harap jangan menolak.” Tidak sengaja melihat pesan singkat dari Rangga teman sekantorku. Dasar aneh sudah tau dia di depanku kenapa harus mengirim pesan?
            “Y” Andalan bagi setiap wanita dengan mengirim pesan sesingkat mungkin. Sambil memperhatikan dia tertawa kecil dari kejauhan. Lumayan senyumnya manis tapi, tak semanis Gandi ketika dia memberikan sebuah flashdisk putih di tanganku.
            “ Apa ini?” Tanyaku dengan dahi berkerut.
            “Tidak usah banyak tanya, bawa saja pulang tancapkan di salah satu lubang komputermu. Pilih data “Gandi untukmu” dan dengarkan.”  Kebiasaannya tidak hilang selalu datang dengan sesuatu yang unik ah,, dasar pria Dewata berdarah AB. Dalam hati sedikit girang tapi aku harus menahannya, ya sebagai wanita menjaga kualitas diri di hadapan pria harus ditingkatkan.
            “Okey, nanti akan kuputar. Yakin suaramu bagus?” Menjawbnya dengan sinis.
            “Pasti.”  Jawabannya selalu sepadat mungkin. Sepadat kenangan di Pantai Pandawa. Sekeras patung-patung yang besar didalamnya. 
            Lamunanku lagi-lagi di rusak seseorang. Untuk saat ini bukan Sandra melainkan Rangga pria berambut di dagu alias brewoknya yang tipis-tpis. Pantas saja banyak wanita yang memuja-mujanya. Sampai-sampai ada juga yang mengajaknya nikah lari dan nikah sirih. Heran –
            “Jangan lupa nanti malam.” Memegang kepalaku sambil membungkukkan badannya kemudian pergi. Yes oke Tuan Rangga untuk kali ini tidak ada salahnya aku harus melupakan Gandi beberapa jam hanya untuk kencan denganmu terutama kencan dengan beberapa cangkir kopi.

******
Kuta, 20 Mei 2013
            Di hadapanku terlihat sebuah kedai kopi yang lumayan ramai. Beberapa turis dari Mancanegara sibuk dengan candaan mereka bersama kawan-kawannya. Rangga sudah meneguk tiga cangkir kopi. Kita sama sama pecinta kopi. Beberapa cangkir kopipun kita seruput dalam keadaan lelah.
            “Silahkan duduk Nona, sepertinya kau terlambat beberapa jam.” Melihat jam tangannya di meja yang sengaja ia lepas. Sindirannya lumayan bagus. Kuberi nilai tujuh puluh untukmu Rangga.
            “Maaf Tuan, aku terlalu lama menunggu jemputan taxi.” Tersenyum kecil meyakinkan dia. Sambil kutarik kursi di depannya dan duduk dengan anggun.
            “Tak jadi masalah untukku. Aku boleh tanya satu hal?”
            “Silahkan.”
            “Kau masih rindu dengan pria bertubuh kurus, mm siapa namanya?” Sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya.
            “Gandi, ada apa dengan Gandi? Penting buatmu?” Tanyaku penasaran.
            “Ada surat untukmu, ini..” Dia memberikan amplop bewarna putih sama persis amplop yang berisikan surat ketika Gandi tiba-tiba meninggalkanku. Aku langsung merampasnya. Penasaran ya penasaran sekali.
            Terima kasih kau sudah menerima suratku dan membuka amplopnya…
Aku tunggu kau di Pantai Pandawa ketika matahari terbit. Aku akan duduk di bangku pantai nomer dua dari arah kau pertama kali melihat melihat pantai. Kutunggu kehadiranmu di sana. Jangan lupa bawakan aku secangkir rindu untukku.
Pria Dewata

******
            Selembar surat dan setengah rindu terbalas sudah kuterima semalam. Sekarang Pantai Pandawa sudah di depan mataku. Langsung kucari kode yang ia berikan. Beberapa patung besar kulewati. Kakiku dengan gesit melangkah demi menjemput rindu di bibir pantai. Pasir Pantai Pandawa masih seperti dulu. Seperti awal aku menemukan seutuh cinta yaitu Gandi. Kutemukan bangku nomer dua dari arah aku melihat pantai. Punggungnya sudah terlihat jelas begitu pula dengan tatttonya. Gandi..
            “Hi, selamat pagi rindu dari Pandawa” Suara yang tak asing kudengar tiga tahun lalu. Gandi… Jika yang di belakangku Gandi, lantas siapa pria yang duduk di sana?Ah entahlah. Aku membalikkan badanku. Benar Gandi sudah di hadapanku. Mataku penuh arti ketika dua bola matanya sudah di depanku. Entah kalimat apa yang harus aku keluarkan dari mulutku. Mataku sudah tak tahan menahan air mata. Secangkir rindu sudah kutemukan di sini. Pandawa dan lesung pipinya masih sama, ronanya tidak ada yang berubah. Dia masih diam, dia mendekat ke pantai. Mengambil kerikil dari tempatnya berpijak.
            “Rehanna Widiii!!!!!!!!!!!” Terkejut ketika tangannya melemparkan sebuah kerikil ke tengah pantai.
            “Hi, Pria Dewata, apa kau sedang gila?” Pertanyaan konyol dari mulutku.
            “Hi gadis manis, apa kau tidak mau mendekat di depanku dan mendekapku.” Dia tersenyum manis sekali. Semanis Matahari yang terbit untuk pagi ini. Mungkin matahari yang terbit esok hari lebih manis. Aku enggan menanyakan kenapa dia pergi tiba-tiba dan tak ada kabar. Yang terpenting kedua tanganku sudah mendekapnya erat. Menangis di atas pundaknya. Sedikit heran bau bajunya seperti aroma bebek goreng yang pernah kita makan beberapa tahun lalu. Menukar bil pembelian dengan KTP, itulah kekonyolan kita.

Pict by The Bay Bali


            “Kau habis makan bebek?” Lagi-lagi pertanyaan konyol keluar dari mulutku.
            “Kenapa kau tahu?”
            “Hidungku masih sehat selama tiga tahun kau lenyap entah kemana sampai sekarangpun masih sehat. Bisa membedakan mana aroma bebek goreng dan mana aroma keringatmu yang menjijikkan. Ya.. terkadang justru itu yang membuatku rindu hahaa..” Akupun kembali bisa tertawa lepas di depannya.
            “Ah dasar kau gadis bebek goreng.” Dia meletakkan kepalaku di ketiaknya. Candaannya mulai gila. Akhirnya aku bisa bertemu rinduku juga setelah tiga tahun. Tidak sia-sia aku menolak beberapa Bli Bali yang ingin mempersuntingku. Karena,, disini aku yakin masih bisa bertemu dengan pria Dewata ini. Aku suka caramu tersenyum, cara lesung pipimu memikatku. Pandawa,, terimakasih telah mempertemukanku dengan secangkir rindu.


“Berjuang untuk suatu kebahagiaan tidak ada hal yang tak mungkin dan sia-sia. Pertama, jika kita mendapatkannya berarti itu kebahagiaan kita. Kedua, jika tidak bisa mendapatknnya berarti itu pengalaman kita”


 Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!






0 comments:

Post a Comment