31 October 2014

GUE ATAU AKU?


            “Be Your Self”
Jadi diri sendiri lebih asyik, daripada jadi diri orang lain. Ya jelaslah, masa saya harus jadi dirinya Mas Fiersa Besari, gak asik ah. Jadi bininya sih, is oke. Gak nolak!
            Duh ‘kan, tambah ngaco.
Gue atau Aku? Adalah gaya bahasa orang-orang zaman sekarang. Nah, kalo zaman dulu, ya mana ada pake gue?  Yang ada, malah pakai akoe. Sekarang, juga ada yang lebih parah pakai ‘akika’ ‘akooh’. *Geleng-geleng* Mungkin, ini semua karena era modern.

Saya sendiri punya pengalaman. Waktu awal kuliah, saya suka sekali dengan percakapan yang menggunakan nama ‘aku’ berubah menjadi ‘gue’ kenapa? Saya memang tinggal di desa, tapi apa daya kalo keturunan nenek moyang dari Betawi. Terlalu lama beradaptasi dengan orang Jakarta, itu yang membuat saya menjadikan ‘aku’ menjadi ‘gue’. Saya pernah menjadi bahan bully-bullyan di kampus, karena ‘gue’. Pantas menjadi bully-bullyan, saya sekarang menetap di Surabaya. Dulu yang pernah tinggal di Jakarta, dan pindah ke sini membuat saya harus beradaptasi lebih banyak. Banyak kawan saya yang bilang “Orang asal ndeso, rumah dekat sawah, makan soto sama pecel aja kok ngomonongya ‘gue’ elu’, “. Kenapa mereka berkata seperti itu? Karena yang mereka tahu, saya ini asal Lamongan yang menetap di Surabaya. Padahal, jejak rantuan saya itu ruwet, mulai dari Jakarta–Ngawi-Lamongan-Surabaya. Di Ngawi pun, saya bersekolah, yang mana semua muridnya berasal dari berbeda-beda kota, pulau, bahkan Negara. Enam tahun beradaptasi, berbicara dengan mereka, sehingga terbawa dengan gaya bahasa mereka, itu wajar. Maka dari itu, terkadang menggunakan bahasa jawa pun, sedikit kaku.

Dan, sekarang ketika saya menetap sudah hampir dua tahun pun, saya sudah bisa menggunakan bahasa Jawa yang kental, bahkan kadang medok. Apa lagi di Surabaya, banyak yang menggunakan nama panggilan bisa menjadi cok’. Ada yang berkata, ‘cok’ itu berbicara kotor, dan ada juga yang bilang ‘cok’  yang berasal dari kata jancok’ itu hanya sebuah tradisi untuk memanggil sesama kawan saja di Surabaya. Presepsi orang berbeda-beda, kita harus hargai itu. Jika, seseorang bilang itu berbicara kotor, kita harus menghargai, dan mengilangkan kata tersebut ketika kita berbicara dengan lawan kita. Tidak ada salahnya, berubah menjadi lebih baik, dan tidak egois dengan kemauan diri sendiri. Tapi ingat, menjadi diri sendiri, dan menghargai diri sendiri, itu lebih menyenangkan. :D


5 comments:

  1. Iyoo cok, gausah kakean gaya gue2an. Mukamu belom mirip ondel2..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Bapaknya Elmy. Iya, mukaku 'kan selamanya mirip Pevita Pearce. :))

      Delete
  2. kalo saya suka nyebut gue pake aku. #??? belajar melihat keadaan aja kali ya intinya. Kalo memang akrab dan terbiasa, ya silakan manggil dengan kata bebas. Tapi kalo dalam lingkup formal, ya sesuaikan lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dulu saya juga pake 'gue' tapi karena keadaan berubah, jadi pake 'aku' menyesuaikan tempat aja :D

      Delete
  3. Ehm.. Ane kalo di blog pake gue. Tapi kalo di dunia nyata pake aku. Menyesuaikan.

    ReplyDelete