01 February 2015

[3] Untuk Tuan yang Manis


Tabik, Kawan-kawan
            Tuan, bagaimana kabarmu? Masih sakit? Oh ya, terima kasih untuk telponmu semalam. Saya mendengar suaramu sedikit parau. Saya rindu Tuanku yang dulu. Saya masih ingat, kali pertama Tuan menelponku, entah berapa kali itu. Saya suka, ketika Tuan bilang sayang, rindu, dan semakin sayang dan rindu. Tuan, terima kasih untuk perjalanan kita menuju enam bulan ini. Banyak sekali cobaan yang kita lalui, sampai entah berapa kali kita hampir terpisahkan. Maaf, Tuan, mungkin menurutmu surat ini sangat norak. Tapi, saya benar-benar bingung, harus berucap pada Tuan seperti apa? Ketika saya ingin bilang serius, sambil air mata berlinang, dan suara tersedu-sedu, Tuan selalu diam. Tuan, kau tidak kuat dengan hubungan kita? Beberapa kali kau menginginkan kita pisah. Apakah cukup sampai di sini, Tuan? Kau mau tidak, kita berjuang bersama?

            Tuan, setiap kali saya memulai hubungan, saya tidak ingin hubungan kita seperti kopi. Kenapa? Saya tidak mau hubungan kita manis di awal, dan pahit seketika. Bisa tidak, kita selalu manis. Saya harap, Tuan masih konsisten dengan arti keseriusan dan kesetiaan. Tuan meamang sering sibuk, saya mohon dalam kesibukanmu, Tuan menyisihkan waktu untuk mengingatku. Tuan, saya minta maaf berkali-kali untuk surat yang norak (mungkin) untukmu ini. Tapi, dari sini, semoga Tuan kembali seperti dulu, selalu berjalan dengan keseriusan. Mungkin cukup sampai di sini, surat saya, semangat untuk kerjamu, Tuan. Semoga kesibukan dari kita tidak menjadi berakhirnya suatu hubungan. Baik-baik kau di Jakarta. :D

Hari Ke-3 dalam program #30HariMenulisSuratCinta

5 comments: