07 February 2015

[9]- Hilang



            Tabik, Kawan-kawan...

Surat kesembilan, untuk yang hilang. 

            Sudah dua hari, kita tidak dipertemukan. Entah, ke mana? Setiap sore, saya duduk di depan rumah. Hanya hujan yang datang, bukan bayanganmu, atau wujudmu. Kaulupa, sekarang kau menginjak usia berapa? Tujuhbelas tahun, bukan? Tidak bosan dengan sifat kekanak-kanakanmu? Bukannya sekarang kaumemiliki perempuan yang mencintaimu. Mungkin, perempuan yang kaucintai, cintanya melebihi dari Ibumu, begitu? Sebenarnya, kalau sekarang saya di hadapanmu, saya pengin merobek kepalamu, dan menghancurkan otakmu. Saya kesal. Saya terlalu percaya, terlalu sayang, tapi kau tidak pernah memberikan imbalan yang baik. Kalau saya boleh request kepada Tuhan untuk berhenti sampai di sini, mungkin saat ini juga saya akan berdoa. Tapi, cinta saya terlalu dalam untuk orang yang di kelilingmu. Mereka masih membutuhkanku.

            Kau mau tidak, untuk bersikap dewasa ketika menemuiku. Jangan banyak janji, yang saya butuhkan adalah usaha dan kepastian. Kemarin sore, saya lihat Ibu menangis. Mungkin, dia sedang kepikiran karenamu. Saya tidak mau, melihat Ibu menangis karena kesedihan. Saya mau Ibu menangis karena senang, itupun sebabmu atau kita semua. Saya mohon, sebesar-besarnya, jangan kaulari dari masalah. Kita di sini, berjuang untuk Ibu, dan keluarganya. Membanggakan mereka. O, ya, jaga kesehatanmu, jauhi apa yang memang harus dijauhi. Saya tidak mau berlama-lama menuliskan surat untukmu. Takut membuatmu kepikiran, dan sakit. Sudah dulu, saya harus bantu Ibu. 

Hari ke-9 dalam program #30HariMenulisSuratCinta

1 comment:

  1. sebut namanya tiga kali, maka dalam sekejap dia akan muncul di belakangmu.. *cling*
    hahahaha

    ReplyDelete