Tentang Lumajang, Rumah untuk Pulang yang Dirindukan

Sunday, September 17, 2017

Lumajang, Jawa Timur – Tak banyak yang tahu saya dilahirkan dari perempuan berdarah Tanah Lumajang. Kota yang kerap disebut-sebut dengan penghasil pisang raja. Ibu saya kelahiran sana, namun setelah kepergian mendiang Kakek, saya lama tak pernah singgah ke sana. Pada akhirnya, waktu pun membawa saya bertamu sebentar untuk bernostalgia. Tak banyak yang berubah nampaknya, apalagi dari segi wisata alamnya. Saya pun beruntung, masih bisa menilik beberapa tempat yang diagungkan oleh wisatawan yang belum pernah saya kunjungi, seperti;
Tumpak Sewu dari sudut panorama
Pertama, Tumpak Sewu yang memiliki trekking menantang. Tak ayal jika banyak pengunjung bangga dengan tempat ini. Pesona Tumpak Sewu berada di Sidomulyo, Pronojiwo tersebut memang terlihat cantik sekali dari sudut panorama. Namun, belum sah jika pengunjung belum trekking ke bawah ke sudut jatuhnya air tejun. Air Terjun Tumpak Sewu memiliki ketinggian sekitar 120m. Kali pertama melakukan trekking dengan akses jalan yang super sangat mengerikan, namun terpuaskan. Meskipun lelah, kemudian menyusuri anak tangga dengan seutas tali yang kemungkinan kuat, hati masih berdebar-debar. Perjalanan yang memakan waktu sekitar satu jam setengah akhirnya sampai juga. 
berjalan di atas air
tebing virgin
menaklukkan Tumpak Sewu
Melewati tebing virgin, kemudian berjalan di air, sepertinya ujian ini belum berakhir juga. Beberapa kawan sudah sampai di atas tebing yang kerap dijadikan spot foto, saya lebih memilih di bawah karena pengaruh keringat dingin. Cuma setengah jam kami menikmatinya, karena petang terburu datang. Ketika perjalanan pulang, maghrib tiba, namun kami tak kunjung sampai, dan partikel hujan pun datang. Di setiap perjalanan, sampai bertemu kunang-kunang, dan pada akhirnya kembali ke basecamp saya memuji diri saya. Saya berhasil melewati trekking yang menantang, sampai melihat ketinggian air terjun yang benar-benar eksotis.

Kedua, Kebun Teh Kertowono Gucialit, dari dulu Ibu menjajikan saya untuk mengajak pergi ke kebun teh tempat mainnya dulu. Sampai saya beranjak dewasa, planning itu pun belum terlaksana, dan lagi-lagi waktu yang membawa saya ke sana. Pada akhirnya, kaki ini menginjakkan Kebun Teh Kertowono, tidak sia-sia kami berangkat sebelum subuh tiba. Menggunakan jeep yang sudah kami rental pada hari sebelumnya, dengan kapasitas 5 kepala. Hampir seperti offroad, jalanan bebatuan, gelap masih menyelimuti, meskipun mobil dengan keadaan tertutup tetap harus berpegangan. Pandangan saya kurang jeli melihat sekitar karena hari yang masih gelap. Hanya memakan waktu kurang lebih 45 menit. 

Mata ini langsung melek seketika, takjub karena melihat sunrise yang cantik. Selain itu, saya pun mendapatkan bonus pemandangan Gunung Semeru dari sisi barat, dan tak kalah indah juga dari sisi timur terdapat latar Gunung Argopuro dan Gunung Lemongan. Pagi yang syahdu. 
Kebun Teh Kertowono, Gucialit
Sunrise di Gucialit
bersama kawan di Gucialit
Jarum jam semakin berjalanan ke kanan, hamparan kebun teh terlihat menyegarkan mata bak karpet hijau yang terbentang luas. Surga dunia memang menakjubkan, meskipun tersembunyi tetap mencuri perhatian.

Ketiga, Desa Wisata Sumbermujur — itu yang kerap diingat orang. Ini kali pertama saya telusur ke desa tersebut, karena ingin berkunjung ke hutan bambu yang banyak diperbincangkan orang. Hutan Yang paling utama menjadi sorotan pengunjung adalah monyet-monyet yang tidak gahar dan ribuan kalong yang singgah di sana. Selain ada ratusan monyet, jangan kaget kalau di sana juga terdapat sekitar 15000-an kalong. Tidak seperti kalong yang saya lihat, di Desa Wisata Sumbermujur, kalongnya terlihat besar. Meskipun dibangunkan, kemudian mereka terbang, kalong-kalong tersebut tetap kembali ke peraduannya.

Hutan bambu yang berada di Jalan Kalpataru Sumbermujur, Candipuro, Lumajang sudah ada sejak zaman Belanda, mereka lebih menjadikannya sebagai sumber rebung (bambu yang masih uda). Bukan hanya itu, di sana juga terdapat sumber mata air yang jernih sekali untuk menghidupi beberapa desa, keren kan??
kalong di Desa Wisata sumbermujur (dibidik oleh Mas Sendy)
Hutan Bambu Sumbermujur
yang lapar di Hutan Bambu Sumbermujur
Keempat, Puncak B29 yang Gagah – saya termasuk putri yang bahagia, jika pulang ke tanah kelahiran Ibu, selalu disuguhkan dengan pemandangan gunung vulkanik, puncak B29 salah satunya. Mungkin beberapa orang semua gunung, puncak itu sama saja, bagi saya tidak. Dari akses jalan saja sudah berbeda, apalagi dengan lansekap yang menawarkan keindahan, pun dengan dialeg ataupun dari segi adat masyarakat di sana.

Untuk menjemput nirwana di Puncak B29 (Bukit 2900mdpl), saya rela begadang, kemudian menyewa ojek untuk menuju ke sana ketika subuh. Tukang ojek yang handal, tidak membuat saya ketakutan di setiap perjalanan yang berkelok-kelok. Hanya menempuh waktu sekitar 30 menit, kemudian berjalan kaki sekitar 20 menit ia yang gagah pun sudah ramai wisatawan. Banyak yang mendirikan tenda, demi melihat sunrise yang cantik. 
surga itu ada
ojekers di B29
yang cantik di B29
Puncak B29 bisa dijadikan tempat pelarian yang manis dari segala rutinitas, karena kalian bisa menyaksikan apa yang sering disebut orang-orang, ya ‘negeri di atas awan’. Bukan hanya itu, di depan mata pun bisa melihat Gunung Bromo, Semeru dari sisi yang berbeda. Wilayah BTS (Bromo Tengger Semeru) wajar jika menjadi buruan wisatawan, selain bisa menikmati negeri di atas awan kami juga bisa melihat terasiring, dengan tanaman sayur segar. 
Suku Tengger
Pulang untuk kembali (Loc: Bandar Udara Notohadinegoro)
Untuk menempuh perjalanan ke Lumajang sungguh mudah, seperti pengalaman saya pada beberapa waktu lalu. Saya lebih memilih jalur udara, dengan memesan tiket di tiket.com tujuan Jember. Setiba di Bandar Udara Notohadinegoro, Jember, saya lebih memilih menggunakan travel untuk menuju Lumajang. Cukup mudah bukan? Tidak usah dipersulit.


Beberapa tempat wisata di atas, sudah saya kunjungi. Sebenarnya masih banyak lagi yang belum saya singgahi. Jika bicara kampung halaman memang tidak habisnya, karena rumah adalah sebaik-baiknya tempat pulang.

Kau adalah rumah. Sejauh apapun aku melangkah, padamu lah aku akan pulang, padamu lah hatiku tidak pernah benar-benar pergi,” @fiersabesari







You Might Also Like

9 comments

  1. Masyaallah, cantik nian Lumajang. Saya sampai takjub dari tadi skrol atas bawah melihat foto2nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, emang semua pariwisatanya okeey kak ^ ^

      Delete
  2. Whoa,keren banget alamnya lumajang...aku seringnya lewat aja^^

    ReplyDelete
  3. Lihat tebing-tebing tingginya itu jadi berasa ada dimana gituuu. Dan aku penasaran banget sama b29. Temen2ku pada ke sana dan aku belum, hiks hiks

    ReplyDelete
  4. Selamat Mbak Inayah, tulisannya menang lomba. Keren Mbak'e

    ReplyDelete
  5. Air terjun nya mirip yang di Malang, keren banget yakin, melingkar gitu, di tempat saya gak ada

    ReplyDelete
  6. air terjun yang benar-benar indah dan banyak sekali tempat menarik di sana..

    ReplyDelete
  7. Air terjunnyaaa yg aku lgs pgn dtgin.. Gpp deh trek ksana susah.. Asal nanti bisa melihat air terjun setinggi dan bgs begitu.. Toh bbrp air terjun yg pernah aku dtgin juga susah2 rutenya. Tp ttp puaaaas banget bgitu mlihat air nya :). Worth it ama rasa capek :D

    ReplyDelete

cewealpukat friends

Komunitas

WARUNG BLOGGER
bLOGGER reporter

Member Of

kumpulan-emak-blogger