13 May 2016

Jakarta dan Segala Kenangannya


Jakarta dan Segala Kenangannya – ehe, jarang update blog. Hina gak sih? Masih disebut blogger kah seorang Aya Slavina ini? Hiks. Saya bertandang ke Jakarta. Hm, kali ini cukup sering. Ya, berkisar sebulan sekali saya sempatkan, tapi masih nyari gratisan. Wakakka. Mbak, Mbak, ayu ayu tapi njalukke gratisan teros. Ngg.. Waktu itu saya dapat rizki bisa pergi ke Belitung, dan meeting point di Jakarta. Gak tahu bingung, mau pilih siapa buat jemput saya. Wahahahhaa.


Tak disangka, di sana saya bertemu dengan mantan gebetan saya. Saya juga gak nyangka kenapa bertemu dengan dia. Sebelum hari keberangkatan menuju Belitung, saya minta tolong dia mengantarkan saya berkeliling Jakarta, tapi syarat harus pakai motor. Saya memang setiap lebaran mudik ke Jakarta, tapi kalau jalan-jalan pakai angkutan bersama keluarga. Kadang juga naik bis. Nah, maka dari itu saya ingin dapat feel-nya ketika naik motor. Ahahhaha. Dia mengajak saya berkunjung ke Kota Tua, Museum Fatahillah. Ya, hampir mirip dengan suasana Jogja. Ramai.

Kami berjalan menyusuri Kota Tua, berpikir tadi mau mengambil foto yang banyak di sini. Karena bagus juga untuk spot foto. Namun, tidak seperti yang dibayangkan. Kamera kami lowbet. Hmm, hanya bisa menyaksikan sunset. Tapi, tidak mengecewakan. Saya sempat heran dengan dia, dia bukan tukang service kamera, tapi hafal bagian kamera. Merem sambil meraba-raba sambil mengoperasikan kamera pun dia hafal. Kita pun menyusuri beberapa sudut kota tua.
Setiap sudut Kota Tua mengagumkan, bukan hanya banyak muda-mudi saja, melainkan kafe, kuliner, sampai orang-orang yang menyerupai pahlawan pun ada, mereka menjadikan dirinya sebagai property foto para wisatawan. Saya dengannya masih menyusuri Kota Tua, banyak hal yang harus diabadikan di sini.

“Wah, ada human interest,” saya berusaha mengeluarkan kamera. Dan langsung lemes, tahu bahwa kamera saya memang benar-benar mati.

“Ya sudah, memang benar kesedihan dia bukan untuk dipublikasikan. Cukup dinikmati saja, “ katanya. Saya tersenyum.


***
“Saya berangkat dulu ke Belitung,” ujar saya sembari gugup takut ketinggalan pesawat.

“Kita masih bisa bertemu lagi, kan?”

“Entah,” jawabku. 

“Baiklah, hati-hati,” Raut wajahnya pun penuh kekecewaan.

Saya sempat bingung, kenapa rasa ini muncul kembali. Beberapa tahun kami tidak bersua, say hai pun sudah jarang. Setelah kembalinya saya ke Jakarta, saya pun menemuinya kembali, sebelum kepulangan saya ke Surabaya. Malam itu dia mengajak saya ke suatu tempat, tidak mewah, namun nyaman. Entah berapa jam kami di ‘angkringan’ sampai mau tutup. Saya tidak sengaja melihat handphone dia yang tergeletak.

“Saya pinjam ya, pengin lihat foto,”

“Silakan,” ujarnya. Tidak sengaja saya melihat chat yang muncul, saya mengenal betul itu kawan saya, sekilas saya melihat ada nama saya di chat tersebut. Saya pun membaca, dan menangis.

“Kenapa?”, tanyanya.

“Enggak, gak papa, kita pulang yuk,” Dia kaget melihat saya yang menangis dan tiba-tiba mengajak pulang. Saya yang sudah dekat dengan kendaraan, dia menarik tangan saya.
“Kamu lihat chat saya saya, iya? Kamu tahu, ini privacy, apa pernah saya lihat chat di handphone kamu? Apa pernah? Kenapa? Kamu kaget lihat chat saya yang curhat ke teman saya, kalau saya sayang kamu? Salah?”

Dia membentak saya, dia menyuruh saya menatap matanya. Saya hanya diam. Saya tahu, alasan dia membentak bukan kasar, melainkan menyuruh saya untuk buka mulut. Karena semua masalah tidak akan terselesaikan dengan cara diam.

**
Sejak pertemuan itu, saya menyesali. Kenapa saya bisa dibuatnya jatuh cinta lagi. Dulu, saya pernah suka, hanya gara-gara dia yang suka chit chat tebar pesona lewat group WhatsApp, kemudian dengan chat japri antara kita. Bukan hanya itu, banyak pelajaran yang saya ambil darinya. Dan, sejak itu saya merasa nyaman. Kesalahan saya yang dulu, nyaman dengan orang yang tidak peka. Tiba-tiba dia menghilang, perhatiannya tidak seperti biasanya. Alasan dia yang sedang buka usaha. Diapun menyesali atas kejadian beberapa tahun lalu, hilang tanpa alasan yang pasti. 

Sejak pertemuan itu, saya mulai meng-iya-kan untuk bersamanya untuk kali kedua. Banyak belajar, belajar menghargai pasangan, saling perhatian, komitmen, iya saya LDR. Banyak yang tidak nyata dengan apa yang saya alami. Beberapa hari hidup di sini, wajib untuk mengenang beberapa cerita. Tidak ada yang menyuruh move on, jadi jangan move on :"
Otak kita diciptakan untuk mengingat, bukan untuk melupakan

Terima kasih Jakarta, atas luka dan bahagia yang saya dapat

Tabik,






8 comments:

  1. Jakarta dan Segala Kenangannya (baca: CLBK)

    ReplyDelete
  2. Asiiiiik...wes melanglang buana kemana mana rek cah ayu iki...ajak2 donk kaka

    ReplyDelete
  3. Saya seperti baca novel, melok baper jadinya :3

    ReplyDelete
  4. Tapi sekarang jakarta sudah sangat panas,,dan sumpek..

    ReplyDelete
  5. Ahhhh jadi ingat saya akan banyak kenangan di kota tua ini....

    ReplyDelete
  6. Move on itu kadang bagus kadang juga nggak sih :D

    ReplyDelete