06 June 2016

Kebahagiaan Sederhana di Ranu Regulo Bersamanya


“Perjalanan tanpa makna adalah rumah tanpa roh. Hanya wujud yang tanpa jiwa.” –Agustinus Wibowo, Titik Nol.
Kebahagiaan Sederhana di Ranu Regulo Bersamanya - Pernahkah kita merasakan sebuah perjalanan yang sebenaranya kita sendiri enggan untuk melakukannya? Atau, pernahkah perjalanan yang kita lakukan merupakan sebuah pelarian kita akan suatu hal. Pelarian kita dari ketidakmampuan kita menghadapi masalah yang ada di tempat kita melakukan rutinitas sehari-hari yang menjemukan. Atau mungkin perjalanan yang kita lakukan selama ini adalah sebuah bentuk eksistensi kita di media sosial? Hanya untuk mencari gambar indah, lalu memamerkannya kepada teman-teman virtual kita? Atau, perjalanan adalah bentuk kita dalam memanjakan serta menghargai kehidupan kita? apapun tujuan kita melakukan perjalanan, adalah hak eksklusif kita. Hanya kita yang berhak menilai tujuan kita melakukan perjalanan. Cibiran orang, serta nada minus yang kita dengar, tak usahlah kita hiraukan.

*****
sunrise dan kabut di ranu regulo
Pada akhirnya, perjalanan saya kali ini bermakna sekali. Kalian tidak mau bertanya kenapa? Baiklah, saya jawab karena berjalanan dengan orang yang benar-benar spesial seperti nasi goreng jawa. Kami yang LDR pun akhirnya dipertemukan di suatu tempat yang benar-benar sederhana, bukan mewah. Jika dengan kesederhanan, kesempurnaan, cintaa… Lah, nyanyi, Mbak. Iya, jadi, jika dengan kesederhanaan saja saya bisa bahagia, kenapa tidak?

Kami bertemu di sebuah tempat yang benar-benar mengagumkan, dan tidak bisa dilupakan. Ketika itu tepat dengan tanggal kelahiran saya. Padahal, biasanya saya sudah terbiasa menikmati hari ulangtahun saya sendiri atau bersama keluarga saya. Kali ini beda… saya menikmatinya di Ranu Regulo daerah yang mana penuh kabut di pagi, siang, hingga malam. Bisa bayangkan bukan, bagaimana dinginnya tempat yang indah itu? Dalam tiga malam saya dan kawan-kawan nge-camp di sini. Saya yang satu tenda bersama kawan asal Jakarta, sedangkan si mamas di tenda sebelah bersama kawan-kawannya. Jika pagi tiba, ia membangunkan saya di luar tenda. Dan membawakan secangkir susu hangat, untuk esoknya teh, dan selalu bervariasi. Kami sudah menyiapkan logistic selengkap mungkin, menghindari makanan yang instant. Berawal berbelanja di Pasar Tumpang, ia yang cerewetnya mengalahi Ibu-ibu pada umumnya, jika menawar harga bahan makanan seperti mematikan hidup orang. Dalam hati saya, “Mas kamu juarak!” Banyak penjual di pasar bingung dengan apa yang kami beli ketika itu.

“Mau ndaki, Mas?” Ujar Ibu-ibu penjual pisang.

“Iya, Bu, ini pisangnya dua ribu aja ya, Bu”

“Duh, kamu ini, Mas nawar kok parah banget,”

“Maklum, Bu, masih bujang,” saya yang ngomong dalam hati, bujang apa pelit, Mas?

“Yaudah, Mas. Ndaki aja bawaannya ribet banget, Mas,” saya hanya cekikikan sendiri. Saya merasa pendakian kali ini bukan untuk menikmati alam, tapi untuk mengenyangkan perut. But, gak papalah, hidup sehat memang sedikit ribet.

****
 steak at ranu regulo
sarapan di pagi hari (roti telur)
take me to the mountains
nasi capcay dan ayam kecap
sedap!!
mas! aku rindu pisang goreng buatanmu :( 

Tiba di Ranu Regulo Ngapain Aja?

Setiap hari yang kami masak selalu berbeda-beda, dari nasi goreng, orak arik telor, ikan tongkol, kentang goreng, capcay, ayam crispy, tumis kangkung, tumis kacang, dan makanan lainnya. Hebat! Saya tidak terpikir, bahwa kami akan memasak semua masakan itu. Saya belajar hidup dari sini. Belajar bahagia dari kesederhanaan.

“Maaf ya, saya hanya bisa memberikan kamu kado ulang tahun seperti ini. Saya sadar, tak bisa mengajak kamu ke luar negeri, atau makan di restoran mewah yang ditemani lilin di tengah mejanya!” Ujarnya sembari melihat wajah saya.

“Saya hanya bisa mengajak kamu camping di dalam tenda dengan suhu dingin malam hari, hanya bisa mengajakmu sarapan, makan siang maupun makan malam di depan tenda di pinggir danau! Dengan menu ala kadarnya. Tanpa appetizer maupun dessert, juga tanpa bunga atau lilin sebagai simbol romantis!” Saya hanya menatapnya dengan berkaca-kaca mendengar dia berbicara seperti ini.
main hammock
indahnya ranu regulo
kok gelap yakk 
“Semoga kamu suka dengan kesederhanaan ini!” ucapnya lagi. Tatapnya  jauh sekali memandang ujung danau. Ia selalu berdoa agar saya menjadi wanitanya yang terakhir.

NB: Tenang, untuk foto makanan si mamas bukan hanya membuat seporsi saja kok, namun banyak dan kami bagikan ke tenda lain. Awww indahnya berbagi kebahagiaan ^ ^

Tabik,

Masih Ada Kebahagiaan Selanjutnya




4 comments:

  1. Aya melow, smoga si mamas bisa jadi pendamping dan pemberi kebahagiaan2 berikutnya.

    ReplyDelete
  2. subbahanallah...
    lokasinya bagus banget ya ^_^

    ReplyDelete
  3. Aish, ini mah kado ulangtahun yang superduper romantis mbak. Si masnya manis banget deh kasih kado beginian (lah kok malah saya yang meleleh ahahaha).

    Duh, jadi pengen camping ceria sama mas suamik nih ahahaha

    ReplyDelete
  4. wah ini kado ulang tahun yang bakalan awet mbak Aya :D..

    bisa ditiru ini kado yang kayak beginian.. :D

    ReplyDelete